Selasa, 22 November 2011

LAPORAN SEMESTERAN INDUSTRI MAKANAN TERNAK


PENDAHULUAN
            Industri Makanan Ternak berkembang di Indonesia semenjak orde pembangunan bersamaan dengan pemerintah membangun di segala sektor bidang, termasuk sub sektor peternakan. Perkembangan Industri Makanan Ternak tidak lepas dari perkembangan ilmu peternakan karena hasil produksi dari aktivitas industri ransum ternak digunakan sebagai masukan dalam kegiatan peternakan.
            Dalam Industri Makanan Ternak banyak hal yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil atau produk yang berkualitas baik seperti kerapatan bahan ( bulk density ), kualitas bahan baku, pengujian kualitas pellet, test sekam, test terhadap bahan organik, test aktivitas urease, peralatan pabrik pakan ternak, dan fraksinasi bahan makanan ternak.
Teknik produksi pakan ternak merupakan serangkaian aktivitas yang melibatkan sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan pakan yang memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh nutrisionist.
Dalam meproduksi pakan ternak ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, pada prinsipnya produk hasil pencampurannya homogen artinya setelah dilakukan pengujian fisik tampak tercampur merata dan bila dilakukan analisis dilaboratorium kandungan zat-zat makanannya sesuai dengan hasil perhitungan yang direncanakan oleh ahli nutrisi. Aktivitas yang dilakukan oleh para pekerja, meliputi kegitan mengenal  macam bahan baku yang biasa digunakan untuk unggas dan ternak ruminansia, pengadaan bahan baku, pengecekan bahan sesuai tidak dengan yang dipesan, pemeriksaan fisik terhadap kadar air, kekotoran dan pemalsuan bahan baku, pengambilan sampel untuk pengujian, kelengkapan administrasi pengiriman, penimbangan bahan, pengenalan operasinal alat-alat dan mesin produksi yang biasa digunakan, pemeriksaan kualitas produk (homogenitas) dan packaging (pengarungan) serta penyimpanan selama digudang.
Perbedaan yang umum ditemui di lapangan dalam hal memproduksi pakan ternak untuk ternak unggas dan ruminansia yaitu pada  pabrik pakan yang memproduksi pakan ruminansia relatip lebih sederhana dibanding untuk ternak unggas. Pada pabrik pakan unggas mesin yang digunakan dalam pembuatan pakan umumnya sangat lengkap sehingga makin banyak bentuk produk yang dihasilkan.
            Tujuan praktikum Industri Makanan Ternak ini adalah agar mahasiswa yang melakukan praktikum dapat mengetahui proses-proses yang harus dilakukan dalam Industri Makanan Ternak sehingga dihasilkan produk pakan yang berkualitas baik.
            Manfaat praktikum ini adalah mahasiswa yang telah melakukan semua praktikum Industri Makanan Ternak ini dapat menerapkan hal-hal yang telah diketahui dalam praktikum di kehidupan sehari-hari khusunya dalam bidang peternakan.







TINJAUAN PUSTAKA
Fraksinasi terhadap tepung bungkil inti sawit dapat di lakukan dengan menggunakan vibrator (alat penggoyang) yang di lengkapi dengan ukuran saringan 250 milimikron dan 125 milimikron. (Agus Setyono. 2007)
Dedak padi adalah sisa penggilingan atau penumbukan padi. Bahan makanan tersebut sangat populer dan banyak sekali digunakan dalam ransum ternak. Ditinjau dari mutunya dedak padi dibagi dalm tiga kelas yaitu dedak kasar, dedak lunteh dan bekatul. (Allen. 2001)
Kualitas dedak halus sangat rendah karena dedak halus mengandung sulfat. (Allen. 2000)
Penyajian dalam bentuk pellet dalam ransum yang mengandung serat kasar tinggi lebih memperlihatkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan menyajikan ransum dalam berbentuk pellet yang kadar serat kasarnya rendah. ( Amrullah. 2004 ).
Tepung tulang merupakan sumber kalsium dan fosfor yang baik, akan tetapi protein dalam tepung tulang yang diukur mutunya sangat rendah karena kandungan gelatinya tinggi, dan tepung tulang ini juga mengandung karbonat. (Anggorodi. 2000)  
Syarat mutu pakan yaitu bahan baku yang berasal dari tanaman dan hasil ikutan ditambah dengan vitamin, mineral, dan antibiotik yang sesuai dengan kebutuhan tipe ayam supaya dapat berproduksi secara optimal (Anggorodi. 1995).
Angka yang didapatkan dari bulk density apabila dibawah dan diatas dianggap tidakbagus, tetapi apabila tepat dan mendekati dengan angka yang ditentukan, maka bahan pakan tersebut bagus. ( Anggorodi. 1997 ).
Dalam penbuatan pellet terdiri atas proses pencetakan, pendiginan, dan pengeringan. ( Anonim. 2007 ).
Sieve shaker di gunakan untuk menyaring bahan baku pakan. Bahan dengan ukuran dan berat yang lebih besar akan tertahan pada saringan yang paling atas. (Anonim. 1997)
Kerapatan bahan pakan merupakan perbandingan antara berat dan volume bahan dan biasanya standar mutu bahan pakan sudah ditentukan sesuai dengan standarnya masing-masing (Anshory. 1997)
Pakan ternak terdiri dari sumber protein, sumber energi, dan sumber mineral, bahan – bahan tersebut tercampur secara homogen mebentuk komposisi ransum yang akurat. ( Anshory. 1997 ).
Kadar air dalam bahan pakan dapat mempengaruhi kualitas bahan pakan, bahan pakan yang bagus mempunyai kadar air yang sedikit. ( Aris. 1999 ).
Kandungan zat-zat makan yang ada didalam formulasi ransum tergantung pada kualitas yang ada dalam bahan pakan dan lama penyimpanan bahan pakan. (Arizona. 1996)
Senyawa garam adalah senyawa yang terbentuk oleh unsur logam dan radikal (sisa asam).Radikal adalah ion yang berasal dari senyawa asam yang ditinggalkan oleh ion H (atom H). Senyawa ini termasuk kedalam senyawa anorganik. Senyawa anorganik adalah senyawa yang bukan berasal dari makhluk hidup. (Atmadirdja, B. 2006)
Untuk mengetahui aktivitas urease aktif yaitu permukaan partikel yang berwarna merah lembayung. (Bambang. 2003)
Bahan yang mengandung klorida akan tampak endapan yang larut dan endapan putih akan hilang setelah diberi larutan amonium hidroksida. (Bambang. 2004)
Berdasarkan kegunaanya bahan baku pakan ternak unggas di bagi atas 5 golongan yaitu, bahan baku sumber protein, bahan baku sumber energi, bahan baku sumber Vitamin, bahan baku sumber mineral, serta feed supplement. (Bambang Agus Murtidjo. 1999)
Jumlah sekam dalam dedak sangat mempengaruhi kualitas dedak, dedak padi dengan kandungan sekam yang tinggi mempunyai kualitas nutrisi yang rendah. (Buckle. 2000)
Berdasarkan kegunaanya bahan baku pakan ternak unggas di bagi atas 5 golongan yaitu, bahan baku sumber protein, bahan baku sumber energi, bahan baku sumber vitamin, bahan baku sumber mineral, serta feed supplement. (Buckle. 2000)
Terlalu banyak garam akan menyebabkan retensi air sehingga, menimbulkan udema dan garam juga merangsang sekresi saliva serta berperan dalam penghambat selektif pada mikroorganisme pencemar tertentu. (Desrosier. 2001)
Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi enzim, yaitu konsentrasi garam, suhu dan pH. Pada umumnya enzim akan mengalami denaturasi atau terhambat proses reaksinya apabila faktor tersebut tidak sesuai untuk kondisi optimumnya. (Grisda. 2006)
Bahan yang mengandung larutan phenol red berwarna merah. (Haris. 2000)
Dedak padi yang mengandung sekam tinggi mempunyai kualitas nutrisi yang rendah. (Hartadi. 2001)
Manfaat pembuatan pellet dapat meningkatkan selera makan ayam, dan setiap butiran pellet mengandung nutrisi yang sama ehingga formula pakan menjadi efisien dan ayam tidak diberi kesempatan untuk memilih – milih makanan yang disukainya. ( Ichwan. 2003 ).
Enzim merupakan protein yang berfungsi untuk mengkatalisis reaksi-reaksi biologis. Bila tidak ada enzim maka reaksi-reaksi kimia akan berjalan sangat lambat. (Iskandar. 2002)
Banyaknya air dalam suatu bahan pakan akan membuat bahan pakan tersbut tidak tahan lama dan akan mudah mikroba pembusuk untuk merusaknya. ( Jamilah. 2001 ).
Zat-zat mineral didalam tubuh mahluk hidup terdapat sebagai senyawa organik atau anorganik yaitu natrium klorida, kalsium fosfat, kalsium  karbonat (organik)terdapat sebagai larutan garam berion atau elektrolit dalam cairan tubuh atau sebagai kristal dalam bagian bagian struktural. (Kuncoro. 2002)
Berdasarkan kegunaannya bahan baku pakan ternak unggas di bagi atas 5 golongan yaitu, bahan baku sumber protein, bahan baku sumber energi (lemak), bahan baku sumber vitamin, bahan baku sumber mineral, serta feed supplement dan ditambahkan dengan probiotik. (Loyvinha, P. 2008)
Aktivitas enzim urease pada tepung atau bungkil kedele dihitung secara kualitatif melalui konversi urea menjadi gas amonia yang terdapat pada phenol red indicator. (Martoharsono. 2004)
Dalam pengamatan bahan urease dapat dilakukan dengan menggunakan zat- zat kimia untuk sehingga kita dapat melihat bahan pakan yang bagaimana yang mengandung urease. (Murtidjo. 2000)
Dedak padi, tepung ikan dan bungkil kelapa tidak mengandung garam. (Murtidjo. 2000)
Jumlah sampel yang diambil akan sangat berpengaruh terhadap tingkat repsentatif sampel, jumlah sampel yang diambil tergantung dari kebutuhan untuk evaluasi dan jumlah bahan yang diambil sampelnya sehingga setiap sampel akan berdeda.(Nahm. 2000)
Pada screen 250 milimikron makin lama penyaringan makin menurun berat BIS yang di hasilkan, tetapi tidak berlaku untuk ukuran screen 125 milimikron. (Nahrowi. 2009)
Test terhadap adanya garam dalam bahan makanan ini bersifat kualitatif sehingga tidak dapat ditentukan jumlah bahan anorganik yang terdapat dalam sampel yang diperiksa. (Notoatmodjo. 2003)
Jagung merupakan sumber energi bagi ternak, jagung digunakan dalam nutrisi ternak kisaran 40 – 50 % dan jagung memiliki energi metabolisme sebesar 3394 Kkal/kg. ( Parning. 2000 ).
            Kadar air maksimum yang ada dalam bahan pakan adalah 15%, apabila lebih dari 15%  maka bahan pakan tersenbut tidak bagus. ( Parning. 2000 ).
Urease memungkinkan organisme dapat memanfaatkan urea internal maupun eksternal sebagai sumber nitogen. Nitrogen .yang terdapat dalam urea bersifat unavailable bagi tanaman kecuali telah dihidrolisis oleh urease. (Poedjiadi. 2003)
Penyimpanan pellet yang baik tidak akan menimbulkan jamur atau bakteri yang lain ( Pujoningsih. 2004 ).
Apabila kerusakan yang terjadi pada bahan baku pakan mencapai lebih dari 50% berarti bahan tersebut tidak bagus untuk digunakan.( Rasyaf, M. 2007 ).
Jamur sangat senang tumbuh pada penyimpanan tempat yang rendah suhunya dan lembab, sehingga jamur mudah berkembang. ( Rasyaf, M. 2001 ).
Makanan atau ransum yang telah lama disimpan akan menyebabkan kerusakan, dan mempengaruhi kualitas bahan pakan jadi dan sangat mempengaruhi jumlah bahan anorganik yang ada pada bahan pakan. (Rasyaf. 1994)
Setiap larutan yang mengandung urea phenol red terdapat partikel-partikel yang berwarna merah lembayung 75 %. (Richardson. 2000)
Apabila bahan yang mengandung karbonat apabila ditambahkan dengan asam hidroklorida dan aquades akan terbentuk buih-buih putih namun bila bahan tersebut tidak terdapat karbonat tidak akan terbentuk buih-buih putih. (Rivai. 2003)
Pengukuran kerapatan jenis bahan baku dapat dilakuakan dengan menimbang sejumlah berat bahan yang ditakar dengan suatu kotak berukuran 1 meter atau tabung silinder dengan volume 1000 ml (Santoso. 1997)
Ada beberapa bentuk pakan ayam petelur yaitu tepung hakus, tepung kasar, pellet, bijian yang utuh. Pakan tepung halus digunakan untuk fase stater, tepung kasar untuk fase grower, selanjutnya pakan ayam buras dewasa berbentuk pellet, biji utuh, atau tepung kasar. ( Sarmono. 2007 ).
Pengawasan mutu adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengawasi pembuatan dan peredaran bahan baku pakan dengan tujuan agar pakan yang dibuat dan diedarkan memenuhi standar mutu sesuai dengan yang telah ditetapkan. (Sarwono. 1997).
Kerapatan jenis yaitu kontrol infentaris digudang yang berguna dalam proses penanganan dan pencampuran bahan pada saat akan dimasukkan kemixer (Sarwono. 1997)
Setiap kerapatan jenis bahan pakan berbeda, hal ini disebabkan oleh kandungan air yang terdapat didalamnya dan ukuran dari bahan pakan tersebut. ( Siregar, S. 2001 ).
Enzim urease memiliki substrat spesifik yaitu urea. Urea adalah molekul organik pertama yang disintesis dan urease jack been adalah enzim pertama yang pernah dikristalkan. (Sirko dan Brodzik. 2000)

           
Dedak lunteh dapat merupakan hasil ikutan penumbukan padi dengan kandungan protein sekitar 9,5%. Dedak lunteh kaya akan thiamin dan kandungan niasinnya yang sangat tinggi. (Soeradji. 2004)
Penggunaan dedak padi dalam ransum sangat penting karena kandungan gizinya yang cukup tinggi yaitu protein 10,1 %, lemak 4,9 %, karbohidrat 48,1 % dan serat kasar 15,3 %. (Soejana. 2002)
Sekam merupakan hasil ikutan penumbukan padi, penggunaan dalam ransum sebaiknya tidak boleh berlebihan karena sekam mempunyai daya cerna yang sangat rendah. (Soekardi. 2001)
Enzim yang mengkatalisa hidrolisis urea membentuk ammonia dan karbondioksida. Urease ditemukan terutama dalam kuantitas besar jackbean, kedele, dan biji tanaman lain. (Soeparmino. 2000)
Urease memungkinkan organisme dapat memanfaatkan urea internal maupun eksternal sebagai sumber nitrogen. (Soeparto. 2001)
Aflatoksin merupakan senyawa beracun yang terdapat tidak secara alami pada bahan makanan. ( Staf pengajar. 2009 ).
Urease merupakan salah satu bentuk enzim yang berperan dalam proses perkecambahan. Enzim ini dapat mengkatalis reaksi pemecahan urea yang bersifat patogen dalam sel tumbuhan menjadi amonia dan CO2. (Standford. 2006)
Setiap bahan yang mengandung urea memiliki nilai yang kualitatif sehingga tidak dapat ditentukan jumlah bahan tersebut. (Sukardji. 2002)
            Barium klorida 5% dan asam hidroklorida umumnya digunakan untuk menguji adanya sulfur pada bahan baku pakan dan pakan jadi hal ini menunjukkan adanya endapan berwarana putih. (Zulpan. 2004)



















MATERI DAN METODA
Waktu dan Tempat
Praktikum Industri Makanan Ternak ini dilaksanakan pada  hari Selasa, tanggal 13 April-18 Mei 2010, pukul 14.00 WIB s/d selesai, bertempat di Laboratorium  Nutrisi Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

Materi
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah nampan, silinder 250 ml, timbangan, mistar, dedak padi halus,  bungkil kelapa, bungkil kedele, jagung kasar, tepung kedele mentah, lampu ultra violet, timbangan, nampan, mistar, ayakan 4 mesh, moisture tester, alat pembuat pellet, sieve shaker dengan 8 ukuran yaitu 4, 8, 16, 30, 50, 100, 400 mesh dan pan, timbangan, alat pengukus, karung  semen, kompor, bahan  baku penyusun ransum (dedak, jagung, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan, bungkil inti sawit, bahan pengikat molases), cawan petri, pengaduk (sendok), pipet tetes, larutan  phloroglucinol, HCL pekat, Ethanol,  Aquades, barium klorida 5%, asam hidroklorida 1:1, larutan perak nitrat 5%, larutan asam nitrat 1:2, larutan ammonium hidroksida 1:1, aquades,  larutan sodium nitrat standar (0, 0,1, 0,2, dan 0,3%), larutan urea phenol red, campuran bungkil kedele standar (1,3,5,7,9,11% tepung kacang kedele mentah).



Metoda
Kerapatan Bahan (Bulk Density)
Metoda yang dilakukan pada praktikum Kerapatan Bahan ( Bulk Density ) adalah setelah bahan yang dibutuhkan siap, bahan yang akan diukur diletakkan diatas nampan kemudian diratakan dengan mistar, lalu bahan – bahan tersebut dibagi menjadi empat bagian dengan metode quartering, Kemudian bahan dimasukkan kedalam tabung silinder 250 ml, lalu ratakan bahan dengan permukaan silinder dengan mistar, keluarkan bahan dari silinder dan ditimbang, lalu ditentukan Bulk Densitynya, Kemudian hasil penimbangan yang didapatkan dikali 4.

Kualitas Bahan Baku
Metoda yang digunakan dalam mengukur kadar air yaitu jagung yang akan di gunakan di giling terlebih dahulu lalu di ukur kadar air nya dengan menggunakan alat moisture tester.
Metoda yang di gunakan dalam metode penyaringan yaitu timbang 100 gram jagung kemudian bahan jagung tersebut di ayak dengan menggunakan ayakan 4 mesh seteleh diayak pisahkan biji yang pecah, rusak, mati, benda asing atau kotoran dan berjamur. Lalu timbang masing-masing komponen dan hitung jumlah relatifnya terhadap berat awal.
Metoda yang di gunakan dalam menentukan kadar aflatoksin yaitu giling kasar jagung tanpa memakai saringan jagung utuh sebanyak 800 gram, letakkan dalam nampan segi empat secara merata, letakkan lampu ultra violet di atas nampan dan hitung jumlah partikel jagung yang berpendar seperti kunang – kunang.

Pengujian Kualitas Pellet
          Metoda yang digunakan dalam praktikum pengujian kualitas pellet adalah bahan baku disiapkan terlebih dahulu sebanyak 4 jenis bahan baku dan ada bahan pengikat. Kemudian bahan tersebut diformulasikan dengan ransum yang dibutuhkan oleh ayam petelur. Bahan yang sudah diformulasikan tadi ditimbang sesuai dengan proporsi dalam campuran. kemudian bahan – bahan tadi dicampurkan secara homogen dan dikukus hingga ransum lembut dan menyatu. Setelah ransum dikukus ransum digiling dengan alat pembuat pellet, kemudian pellet yang telah jadi dihitung kadar air dan ketahanan terhadap benturan dan setelah itu pellet dijemur selama beberapa hari agar pellet menjadi kering dan dapat dikonsumsi oleh ternak.

Test Sekam
Metoda test sekam dengan larutan phloroglucinol 1% adalah menyiapkan sampel standar sekam 10%, 15% dan 20% ditimbang masing-masing satu gram, selanjutnya menyiapkan sampel dedak padi dan ditimbang masing-masing satu gram, lalu  diletakkan masing-masing sampai dalam cawan petri secara merata, didalam waktu hampir bersamaan, masing-masing sampel diberi lautan phloroglucionol 1% dengan  pipet tetes sebanyak 5 ml. Kemudian menggoyang-goyangkan cawan petri hingga dedak padi bercampur dengan phloroglucinol 1% secara merata. Tunggu 10 menit, dan mengamati  warnanya, lalu dibandingkan dengan sampel standar yang ada. Kadar sekam yang direkomendasikan maksimal 20%.
            Metoda membuat larutan phloroglucinol 1% adalah menimbang phloroglucinal 25 gram, menambahkan HCl pekat 180 gram dan ethanol 500 ml dan menambahkan aquades sampai 2,5 liter. Kemudian, larutan phloroglucinol 1% yang sudah jadi  disimpan dalam botol gelap dan siap pakai. Jika berubah jadi warna merah , larutan telah rusak dan tidak akurat lagi. Antisipasinya membuat larutan sesuai kebutuhan.
            Metoda membuat sekam standar yaitu dengan mengayak dedak padi dengan ayakan mesh 40, yang lolos adalah dedak padi tanpa sekam, menimbang sekam yang sudah digiling halus sesuai standar yang diinginkan yaitu 10 gram, 15 gram, 20 gram, kemudian mencampurkan sekam dengan dedak padi tanpa sekam tersebut.

Test Terhadap Bahan Anorganik
Metoda pada praktikum test terhadap bahan anorganik yaitu test sulfat, test klorida, test karbonat, dan test garam.Metoda terhadap test sulfat adalah letakan bahan pakan yang akan diuji pada cawan petri dan teteskan asam hidroklorida sebanyak 2-3 tetes. Tambahkan 1-2 tetes barium klorida. Bila terbentuk endapan yang berwarna putih maka bahan tersebut mengandung sulfat. Metoda terhadap test klorida yaitu masukan 1-2 gram sampel yang diuji ke dalam beaker glass 100 ml dan tambahkan 30 mI asam nitrat. Aduk dan biarkan 1-3 menit. Masukan 2-3 tetes larutan no.1 ke dalam cawan petri dan tambahkan 2-3 tetes perak nitrat. Akan terbentuk warna putih. Untuk menguji hasil yang didapat, tambahkan 3-5 tetes ammonium hidroksida, endapan akan larut dan endapan putih akan hilang. Metoda terhadap test karbonat metoda yang digunakan yaitu ambil sedikit sampel yang akan ditest dan letakkan pada cawan petri. Basahi dengan aquades. Tambahkan 4-5 tetes asam hidroklorida dingin dan panaskan pada steambath. Perhatikan buih yang berwarna putih. Metoda terhadap test garam, yaitu timbang 1 gram sampel dan 100 ml aquades. Aduk dan saring dengan kertas whatmant no. 4. Pipet 1 mI larutan standar dan tambahkan 8 mI larutan asam nitrit. Aduk dan tambahkan 1 mI larutan perak nitrat. Aduk dan bandingkan hasil test terhadap sampel dengan sampel standar . Hasil test dapat dibaca dalam waktu 5 menit. Dan hasilnya garam akan memberikan warna putih keruh.

Test Aktivitas Urease
Metoda yang digunakan dalam praktikum pengamatan test aktivitase urese adalah yang pertama sesuaikan larutan urea phenol red menjadi warna merah deengan N asam sulfuric, setelah tempatkan 1 sendok campuran bungkil kedeele standart ( 1,3,5,7,9,11% tepung kacang kedele mentah) dan bungkil kacang kedelai yang akan diuji kedalam beberapa cawan petri. Setelah itu masukkan sampel yang diuji di bagian tengah, kemudian tambahkan 5-8 tetes phenol red solution yang berwarna kuning sawo. Seyelah itu aduk perlahan sampai mengembang dan membasahi sampel pada cawan. Kemudian biarkan selama 5 menit dan bandingkan bungkil kacang kedelai ( sampel ) yang diuji dengan sampel bungkil kacang kedelai standar.


Fraksinasi Bahan Makanan Ternak
Metoda yang di gunakan pada fraksinasi bahan makanan ternak adalah yakinkan bahwa saringan pada alat penggoyang sudah bersih dan terpasang dengan baik sesuai ukuran lobangnya, hubungkan kabel ke sumber listrik secara benar, timbang masing-masing bahan sebanyak 300 gram, masukkan secara perlahan-lahan bahan yang telah di timbang tersebut kedalam saringan yang paling atas, hidupkan alat penggoyang selama 15 menit dengan kecepatan 10 rpm dan tampung bahan yang ada pada setiap saringan kemudian di timbang, serta catat berat masing-masing pada table yang di sediakan.





             











.







HASIL DAN PEMBAHASAN
Kerapatan Bahan (Bulk Density)
Tabel 1. Hasil Perhitungan Bulk Density Bahan Pakan :
No.
Bahan Pakan
Bulk Density
( gram/liter )
Keterangan
1.
Bungkil Kedele
684,8
Jelek
2.
Bungkil Kelapa
486
Jelek
3.
Dedak Padi
646,4
Jelek
4.
Tepung Kedele Mentah

Jelek
5.
Jagung Kasar
703,6
Jelek

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa bahan pakan yang dibeli di berbagai toko masih tergolong tidak bagus, hali ini dapat dilihat dari perlakuan bulk density yang dilakukan. Perbedaan kerapatan bahan baku tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti lama penyimpanan, suhu tempat penyimpanan, kelembaban, dan pemalsuan.
            Suatu bahan pakan yang dipalsukan, maka kepadatan bahan bakunya akan berbeda, misalnya bungkil kelapa dapat dipalsukan dengan menambah kulit, urea, dan pasir. Bahan pakan yang satu dengan bahan pakan yang lainnya. Sesuai dengan pendapat Siregar, S. ( 2001 ) bahwa Setiap kerapatan jenis bahan pakan berbeda, hal ini disebabkan oleh kandungan air yang terdapat didalamnya dan ukuran dari bahan pakan tersebut.
            Dari tabel diatas juga dapat diketahui bahwa bahan pakan yang digunakan untuk praktikum dan ditentukan kerapatan bahannya tidak sesuai dengan standar mutu yang ditentukan. Hal tersebut terjadi dikarenakan kurang adanya pengawasan mutu pada bahan pakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (1997), yang menyatakan bahwa pengawasan mutu adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengawasi pembuatan dan peredaran bahan baku pakan dengan tujuan agar pakan yang dibuat dan diedarkan memenuhi standar mutu sesuai dengan yang telah ditetapkan.
            Kerapatan bahan pakan pada setiap jenis bahan berbeda-beda dan kerapatan jenis perlu dilakukan berguna untuk mengetahui kerapatan jenis masing-masing bahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (1997), yang menyatakan bahwa kerapatan jenis yaitu kontrol infentaris digudang yang berguna dalam proses penanganandan pencampuran bahan pada saat akan dimasukkan kemixer.
            Setiap bahan yang telah diterima dan ditentukan kerapatan jenisnya maka dapat dengan jelas diketahui apakah bahan tersebut karapatan bahannay bagus atau jelek. Hal ini sesuai dengan pendapat Anshory (1997), yang menyatakan bahwa kerapatan bahan pakan merupakan perbandingan antara berat dan volume bahan dan biasanya standar mutu bahan pakan sudah ditentukan sesuai dengan standarnya masing-masing. Dan pendapat Santoso, (1997), yang menyatakan bahwa pengukuran kerapatan jenis bahan baku dapat dilakuakan dengan menimbang sejumlah berat bahan yang ditakar dengan suatu kotak berukuran 1 meter atau tabung silinder dengan volume 1000 ml.
Dari bahan pakan yang digunakan dalam praktikum bulk density, tidak ada satupun bahan pakan yang berkualitas baik, karena angka dari bulk density yang diperoleh tidak sama atau mendekati angka yang ada di tabel yang telah ditentukan. Sesuai dengan pendapat Anggorodi ( 1997 ) bahwa Angka yang didapatkan dari bulk density apabila dibawah dan diatas dianggap tidak bagus, tetapi apabila tepat dan mendekati dengan angka yang ditentukan, maka bahan pakan tersebut bagus.
            Setiap bahan pakan yang telah diterima dan dibulk density, maka kerapatannya dapat diketahui dan disimpulkan apakah bagus atau tidak. Karena bahan pakan merupakan sesuatu yang dimakan oleh ternak yang mengadung sumber protein, energi, mineral dan sebagainya yang memenuhi hidup ternak. Sesuai dengan pendapat Anshory ( 1997 ) bahwa Pakan ternak terdiri dari sumber protein, sumber energi, dan sumber mineral, bahan – bahan tersebut tercampur secara homogen mebentuk komposisi ransum yang akurat.

Kualitas Bahan Baku
Kadar Air
Tabel 2. Kadar Air Bahan :
Kelompok
Berat sampel (gr)
Kadar air
(%)
Kadar air rata-rata (%)
A1-1
1,01
10,9
11,45
A1-2
1,01
12,0
A2-1
1,01
13,0
12,5
A2-2
1,00
12,0
A3-1
1,00
12,0
11,15
A3-2
1,01
10,3
A4-1
1,00
12,0
11,95
A4-2
1,01
11,9
A5-1
1.01
16
16
A5-2
1.01
16
A6-1
1,01
11,0
10,9
A6-2
1,01
10,8
A7-1
1,00
21,7
21,25
A7-2
1,01
20,8

Dari perlakuan kadar air yang dilakukan setiap kelompok, rata – rata kadar airnya dibawah 15 %, bahan yang digunakan moisture tester. Kadar air yang dibawah 15 % berarti bahan pakan tersebut baik. Sesuai dengan pendapat Rasyaf, M ( 2000 ) bahwa Kadar air maksimum yang ada dalam bahan pakan adalah 15%, apabila lebih dari 15%  maka bahan pakan tersenbut tidak bagus.
            Bahan pakan yang banyak mengandung air, maka bahan pakan tersebut kualitasnya tidak bagus dan tidak bisa bertahan lama, bahan pakan misalnya jagung akan busuk dan berjamur. Sesuai dengan pendapat Jamilah ( 2001) bahwa Banyaknya air dalam suatu bahan pakan akan membuat bahan pakan tersbut tidak tahan lama dan akan mudah mikroba pembusuk untuk merusaknya.
Kadar air yang diperoleh dari setiap kelompok rata – rata 10,9 % - 21,25 % yang berarti dibawah 15 %. Kadar air dibawah 15 % mempunyai kualitas bahan pakan yang baik dan nilainya bagus, serta kandungan untuk ternak bagus. Sesuai dengan pendapat Aris ( 1999 ) bahwa Kadar air dalam bahan pakan dapat mempengaruhi kualitas bahan pakan, bahan pakan yang bagus mempunyai kadar air yang sedikit.
Metoda Penyaringan
Tabel 3. Hasil Penyaringan Bahan :
Kelompok
Bahan yang di test
Pecah
Rusak
Mati
Kotoran
Jamur
1
Jagung 1
0,91
0,39
0,95
0,13
1,58
1
Jagung 2
0,45
2,18
2,18
0,21
3,08
2
Jagung 1
3,39
4,00
1,97
0,15
1,44
2
Jagung 2
3,37
3,89
1,85
0,18
1,52
3
Jagung 1
1,98
1,89
3,91
0,57
3,69
3
Jagung 2
1,97
1,76
3,80
0,57
3,56
4
Jagung 1
4,78
4,05
0,74
1,11
4,30
4
Jagung 2
1,29
1,15
0,51
0,15
1,67
5
Jagung 1
0,13
2,20
2,92
0,01
3,30
5
Jagung 2
0,11
1,2
3,3
0,002
4,50
6
Jagung 1
0,23
0,85
0,05
0,27
1,65
6
Jagung 2
0,72
0,58
0,12
1,22
1,22
7
Jagung 1
14,91
13,83
4,62
0,12
17,30
7
Jagung 2
14,42
12,93
3,43
0,1
15,21

Pada metode penyaringan setelah dilakukan pengamatan dengan memisahkan jagung utuh menurut komponennya masing-masing maka dapat kita lihat bahwa jagung 1 pada test yang kedua memiliki persentase jagung yang mati lebih banyakdibanding dengan pengamatan pada jagung yang lain. Keadaan ini membuktikan bahwa jagung tidak baik untuk dikonsumsi karena memiliki kualitas yang buruk.
Kadar Aflatoksin
Tabel 4. Kadar Aflatoksin Bahan :
Kelompok
Bahan yang diuji
Hasil
Keterangan
I
Jagung
48
Pakan baik
II
Jagung
51
Pakan baik
III
Jagung
33
Pakan baik
IV
Jagung
25
Pakan baik
V
Jagung
46
Pakan baik
VI
Jagung
40
Pakan baik
VII
Jagung
53
Pakan baik

Pada pengamatan kadar aflatoksin dapat diketahui bahwa sampel yang digunakan yaitu jagung memiliki kualitas yang baik. Level aflatoksin jagung yang masih dapat ditoleransi adalah maksimum 150 ppb. Jagung yang memiliki kadar aflatoksin yang baik dapat dikonsumsi oleh ternak tanpa adanya bahaya atau ganguan yang akan merugikan ternak itu sendiri. Apabila kadar aflatoksin tidak baik, hal ini dapat merugikan ternak yang mengkonsumsi pakan tersebut sebab aflatoksin merupakan racun yang dapat membahayakan dan dapat berpengaruh terhadap  pertumbuhan dan produksi ternak tersebut.
Anggorodi. HR, ( 2001 ) yang menyatakan bahwa aflatoksin jarang terdapat pada tingkatan yang benar-benar toksik terhadap ternak. Gejala menahun akibat menelan aflatoksin kurang dari 1 ppm selama 1 minggu/lebih menimbulkan menurunnya pertumbuhan/produksi telur, gangguan fungsi hati, pengikisan lapisan traktus gastro-intestinalis, kerdil dan kadang kala cacat
Jagung yang tidak baik atau kualitasnya buruk karena pengaruh dari kelembaban atau suhu yang tidak bersahabat yang dapat menimbulkan racun atau aflatoksin yang merugikan yang berasal dari genus Aspergillus.
Parning, M, (2000) menyatakan bahwa aflatoksin merupakan jenis racun yang diproduksi oleh jamur Aspergillus favus dan Aspergillus parasiticus,. Jmaur ini hidup pada kadar air tinggi, suhu tinggi dan kelembaban tinggi.Racun jenis ini merupakan produk dari metabolit sekunder.

Pengujian Kualitas Pellet
Tabel 5. Hasil Komposisi Ransum Ayam Petelur Periode Laying :
Bahan
Penggunaan
(%)
PK
ME
Pakan digunakan
Jagung
66
5,94
2263,8
1980
Dedak padi
1
0,1273
43,9787
30
B. kedele
6
3,234
158,4
180
T. ikan
1
0,1535
42,9249
30
B. kelapa
10
2,05
154
300
B. Inti Sawit
13
5,421
291,2
390
Molases
3
0,162
58,8
90
Jumlah
100
17,0878
3013,1036
3000

Penggunaan bahan baku pakan untuk ayam petelur stater grower terdri dari Jagung, dedak padi sebagi sumber energi. Bungkil kelapa, bungkil kedele, dan tepung ikan sebagai sumber protein, dan tepung molases sebagai bahan pengikat dalam pembuatan pellet. Ada beberapa bentuk pakan ayam petelur yaitu tepung hakus, tepung kasar, pellet, bijian yang utuh. Pakan tepung halus digunakan untuk fase stater, tepung kasar untuk fase grower, selanjutnya pakan ayam buras dewasa berbentuk pellet, biji utuh, atau tepung kasar. (Sarmono. 2007).
Tabel 6. Hasil Penyaringan dan Kadar Air Pellet Kelompok 1 :
No. Saringan
Jenis Mesh (mm)
Berat (gr)
Kadar air
2
1,00 mm
3,0


35,9
3
710 µm
2,1
4
250 µ
4,1
5
90 µ
0,79
6
pan
0,2
Jumlah
10,19

Tabel 7. Hasil Penyaringan dan Kadar Air Pellet Kelompok 2 :
No. Saringan
Jenis Mesh (mm)
Berat (gr)
Kadar air
2
1,00 mm
0,1


32
3
710 µm
0,1
4
250 µ
0,4
5
90 µ
0,01
6
pan
-
Jumlah
0,61

Tabel 8. Hasil Penyaringan dan Kadar Air Pellet Kelompok 3:
No. Saringan
Jenis Mesh (mm)
Berat (gr)
Kadar air
2
1,00 mm
1,9


40
3
710 µm
0,6
4
250 µ
1
5
90 µ
0,2
6
pan
-
Jumlah
3,7

Dari tabel diatas dapat diketehui bahwa kualita pellet yang dibuat dapat sampai terakhir 0,1, pellet yang bagus dan berkualitas dapat meningkatkan nafsu makan ternak. Manfaat pembuatan pellet dapat meningkatkan selera makan ayam, dan setiap butiran pellet mengandung nutrisi yang sama ehingga formula pakan menjadi efisien dan ayam tidak diberi kesempatan untuk memilih – milih makanan yang disukainya. ( Ichwan 2003 ).
Didalam proses pembuatan pellet terdiri dari pengukusan, pencetakan, pendinginan dan pengeringan didalam pengukusan terjadi bahan pakan bercampur dan menjadi satu. Pengeringan memanfaatkan sinar matahari selama 3 hari. Dalam penbuatan pellet terdiri atas proses pencetakan, pendiginan, dan pengeringan. ( Anonim. 2007 ).
Didalam pengeringan dilakukan dengan sangat baik dan teliti, karena untuk mencegah timbulnya jamur pada pellet yang dijemur. Pellet yang baik mempunyai kadar air yang rendah. Kadar air didalam pellet minimal 30, apabila lebih berarti pellet tersebut kurang baik dan jamur akan mudah tumbuh. Penyimpanan pellet yang baik tidak akan menimbulkan jamur atau bakteri yang lain ( Pujoningsih. 2004 ).
Pellet yang berkualitas baik dipengaruhi oleh bahan –bahan yang digunakan dalam penyusunan ransum. Didalam pembuatan pellet sebaiknya banyak mengandung serat kasar yang banyak, karena akan memberikan manfaat yang banyak bagi ternak. Penyajian dalam bentuk pellet dalam ransum yang mengandung serat kasar tinggi lebih memperlihatkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan menyajikan ransum dalam berbentuk pellet yang kadar serat kasarnya rendah. ( Amrullah 2004 ).

Test Sekam
Tabel 9. Hasil Test Sekam :
Bahan
Standar
10%
15%
20%
Sekam
DPTS
10
90
15
85
20
80
DPTS= Dedak Padi Tanpa Sekam
Kelompok 1 :
Asal Dedak
Nama   Toko               : Heri ( pemilik )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar